Membandingkan Karakteristik Novel Angkatan 70 dan 90 !

Unsur yang di bandingkan :
1. Bahasa/gaya penuturan yang digunakan pengarang
Novel 70-an :Bahasanya ringan dan mudah dimengerti. Bahasanya tidak baku.
Novel 90-an :Bahasa mudah dimengerti dan masih masih menyelipkan beberapa bahasa daerah.
2. Watak
Novel 70-an :Pemaaf, tekun, pemberani, tetapi karena si tokoh masih kecil, watak yang digambarkan, ia terlalu cepat menilai seseorang.
Novel 90-an :Keras kepala, tetap pendirian.
3. Tema
Novel 70-an :Perjuangan hidup
Novel 90-an :Adat dan modernisasi


Novel 70-an

1. Sudut Agama : Dilihat dari sudut agama Ujang adalah anak yang takut serta patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terbukti dengan perilakunya yang jujur dan hormat kepada orang yang lebih tua.
2. Sudut Kemanusian : Dilihat dari sudut kemanusian Ujang adalah anak yang menjunjung tinggi peri kemanusiaan. Terbukti dari sikapnya yang pemaaf, sabar, serta dermawan.
3. Sudut Hukum : Dilihat dari sudut hokum, Ujang memiliki hak untuk melapor kepada pihaak yang berwajib atas kambingnya yang dicuri. Namun Ujang memilih pasrah terhadap musibah yang menimpanya.
4. Sudut Moral : Dilihat dari sudut moral, Ujang memiliki sifat pemaaf, sabar, dapat menerima pendapat orang lain, berperilaku sopan santun, serta dermawan.


Novel 90-an

1. Sudut Agama : Sifat Bondang sesuai dengan agama. Karena ia ingin mempertahankan adapt leluhurnya.
2. Sudut Kemanusiaan : Sifat Bondang yang keras kepala yang tidak mau mempertimbangkan saran dari orang lain membuat dirinya sendiri menyesal.
3. Sudut Hukum : Bondang memiliki hak untuk memilih dimana tempat ia tinggal. Dan dia tidak bersalah karena dia memang tidak memaksa masyarakat untuk mengikutinya.
4. Sudut Moral : Walaupun ia keras kepala, namun ia memiliki rasa iba dan tanggung jawab yang tinggi. Sehingga dia mau meluluhkan hatinya untuk berpindah ke tempat lain demi kepentingan bersama.


Sipnosis Novel 90-an

Panggil Aku Sakai

Hiduplah sepasang suami istri di sebuah suku di atas rakit yang mereka bangun dengan kesederhanaan. Suatu hari kepala suku itu datang dengan membaawa kabar bahwa mereka akan pindah ke desa yang lebih maju. Namun, Bondang tokoh utama dari novel ini tidak menyetujui hal tersebut, karena dia masih ingin mempertahankan budaya leluhurnya. Namun keputusan itu tetap berjalan. Karena Bondang tidak ingin meninggalkan tempat dimana dia terlahir, ia pun menetap di atas rakitnya bersama istrinya, dayang serta beberapa warga yang setia dengannya.
Suatu ketika hujan deras bersama dengan badai menimpa desa tersebut. Rakit-rakit pun menjadi berantakan dan hanyut tanpa tersisa sedikitpun. Untungnya Bondang dan Dyang selamat setelah dia berhasil menarik sebatang kayu dan memeluk kayu tersebut. Setelah kejadian itu mereka pun berada dalam situasi kemiskinan dan kelaparan. Hingga akhirnya Bondang menyerah dan mau pindah ketempat yang lebih baru dan maju bersama warga lainnya.


Sipnosis Novel 70-an

Lembah Hijau

Ujang adalah seorang anak yatim piatu yang hidup sebatang kara di kampong cimacam. Ia tinggal disebuah gubuk yang berhalaman luar dengan 2 ayam dan 1 kambing peliharaannya.
Suatu ketika, ujang kehabisan uang dan persediaan beras. Ia pergi ke rumah Pak Memet untuk meminta bantuan. Pak Memet pun bersedia membantu Ujang. Ia mengusulkan agar halaman gubuk Ujang dimanfaatkan untuk menanam kacang. Ujang pun setuju. Ide Pak Memet terlaksana. Setelah sekian bulan menanti, kacang itu pun siap di panen. Pak Memet menjual kacang tersebut. Ujang sangat senang menanti hasil kebun tersebut. Tapia pa daya, ia hanya menerima 20% dari penjualan. Ujang kecil pun kecewa pada Pak Memet.
Setelah kejadian itu, Ujang memutuskan untuk ke Jakarta. Ia berharap ia bisa mencari seseorang yang benar-benar baik. Ternyata Ujang kembali kecewa. Ia merasa telah ditipu oleh orang-orang disekitarnya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan Pak Arif, seorang guru yang hidup bersama seoarang anak laki-lakinya. Ujang tinggal bersama Pak Arif setahun lamanya. Disana ia mendapatkan pelajaran moral dari Pak Arif, guru yang bijaksana. Kebahagian Ujang mulai terasa setelah ia bertemu ibu Marni. Ibu Marni mengangkat Ujang menjadi anaknya dan mereka pun hidup bahagia.

Perbandingan Isi Novel Dengan Kehidupan Masa Kini

1. Novel 70-an
Dari segi moral, isi novel tersebut bisa kita terapkan dalam kehidupan masa kini. Karena pesan moral yang tersirat sangatlah kuat, bermanfaat untuk merubah gaya kehidupan kini yang menyimpang.

2. Novel 90-an
Dari novel 90-an, apa yang dilakukan tokoh utama kurang sesuai dengan kehidupan masa kini, karena bagaimana pun kita harus bisa beradaptasi dengan hal-hal yang baru agar kita bisa menjadi manusia yang maju.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar